Rabu, 25 Mei 2016

Renungan Untuk Generasi Saat Ini


Bismillahirrohmanirrohim

Melampaui batas. Itulah tingkah laku perbuatan manusia yang terjadi saat ini. Beberapa waktu yang lalu kita dikejutkan dengan kabar yang sangat menyayat hati. Kasus pemerkosaan anak di bawah umur yang dilakukan oleh belasan orang secara bergilir dan ironisnya para pelaku ini masih duduk di bangku SMP. Parahnya lagi setelah memperkosa, mereka kemudian membunuh korban dan membuang ke jurang. Tidak hanya sampai disitu, ada lagi kasus yang serupa namun korbannya adalah BALITA pelakunya juga membunuh korban usai melampiaskan nafsu bejadnya itu. Kemudian di Tanggerang terjadi kasus yang naudzubillah diluar batas. Pemerkosaan seorang remaja yang berakhir dengan dibunuhnya korban dengan cara yang amat keji, korban dibunuh dengan cara memasukkan sebuah cangkul kedalam daerah intim korban hingga cangkul tersebut memasuki hampir 90% tubuhnya.

Hal-hal tersebut terjadi tidak dengan sendirinya ada hal yang menjadi akar penyebab dari deretan kasus-kasus tersebut. Setelah polisi meringkus para pelaku didapati alasan dan motif yang mengapa mereka tega melakukan hal yang keji tersebut. Ada yang beralasan ditolak berhubungan suami-istri padahal status mereka bukan suami-istri, ingin punya pacar karena selalu diejek temannya menjomblo terus, sengaja melakukan karena ingin mempraktekkan adegan film porno yang ditontonnya, sakit hati kepada mantan pacarnya, dan lain-lain. Selain motif-motif diatas ada fakta mengejutkan lain dari kasus-kasus tersebut. Mayoritas pelaku yang melakukan perbuatan tersebut pernah BERPACARAN baik dengan korban maupun dengan orang lain. Karena beberapa sebab persis dengan motif mereka seperti diputusi pacarnya, diselingkuhi, menolak berhubungan suami-istri dll para pelaku ini marah dan secara gelap mata memperkosa korban dan membunuhnya.  Dari deretan alasan-alasan para pelaku dapat disimpulkan bahwa penyebab kasus-kasus pemerkosaan yang berujung maut ini diakibatkan karena mereka tidak dapat menjaga nafsu syahwat mereka dikarenakan mereka BERPACARAN. Lantas bagaimana bisa kedua hal ini menjadi akar permasalahan dari kasus-kasus keji tersebut?

Ada beberapa data yang dapat dijadikan alasan mengapa PACARAN menjadi penyebab dari kasus-kasus pemerkosaan yang berujung maut ini. Menurut Rifka Annisa, sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak di bidang kesehatan reproduksi dan gender menemukan bahwa sejak tahun 1994-2001, dari 1683 kasus kekerasan yang ditangani, 385 diantaranya adalah kekerasan pada masa pacaran (Kompas-online 4 Maret 2002). Rumah Sakit Bhayangkara di Makassar yang telah membuka pelayanan satu atap (One Stop Service) dalam menangani kekerasan terhadap perempuan mendapatkan bahwa dari tahun 2000-2001 ada 7 kasus kekerasan pada masa pacaran yang dilaporkan (Kompas-online 4 Maret 2002). Sedangkan PKBI Yogyakarta mendapatkan bahwa dari bulan Januari hingga Juni 2001 saja terdapat 47 kasus kekerasan pada masa pacaran, 57% diantaranya adalah kekerasan emosional, 20% mengaku mengalami kekerasan seksual, 15% mengalami kekerasan fisik, 8% lainnya merupakan kasus kekerasan ekonomi (Kompas, 20 Juli 2002 dalam http://www.bkkbn.go.id). Dari data-data tersebut sudah sangat jelas mengapa PACARAN menjadi penyebab dari kasus-kasus ini. Memang tidak ada korban jiwa  di dalam data-data tersebut dikarenakan data yang diambil merupakan data lama dari tahun 90an hingga tahun 2000 dan sampailah tahun sekarang, tahun 2016 yang merupakan puncak dari diluar batasnya akibat yang ditimbulkan oleh PACARAN. Timbullah pertanyaan mengapa PACARAN dapat menyebabkan hal ini terjadi?

PACARAN terjadi karenan adanya CINTA dan cinta ini terjadi diawali dari PANDANGANnya terhadap lawan jenis kemudian berlanjut ke PDKT dan akhirnya PACARAN. Seiring berjalannya waktu orang yang berpacaran akan terpenjara oleh cintanya sendiri. MABUK CINTA itulah yang menyebabkan diri mereka terpenjara oleh rasa cintanya sendiri. Istilah mabuk cinta sungguh tidak asing di telinga kita. Ibnu Hazm Al Andalusy membagi cinta menjadi beberapa tingkatan:

  1.  Al Istihsan (menganggap baik) yaitu ketika seseorang melihat orang yang dilihatnya kemudian ia mengungkapkan keindahannya (memujinya) biasanya orang akan merayu dan menggombal orang yang disukainya.
  2.  Al I’jab(terpesona) yaitu adanya hasrat dari orang yang melihatnya untuk lebih dekat lagi dan ada keinginan kuat untuk berbincang-bincang dengan pihak yang dilihatnya setiap waktu setiap saat hingga ia lupa waktu. Jadwal makannya sendiripun dia lupa.
  3. Al Ilfah (jinak atau adanya rasa tenteram dan damai) yaitu munculnya rasa kesepian yang dirasakan oleh pihak yang mencintai ketika pihak yang dicintai menghilang dari hadapannya. Keramahan dan kedamaian yang diberikan oleh pihak yang dicintai tidak bisa digantikan dengan keramahan orang lain. Dalam tahap ini jika sudah parah orang tersebut dapat mengalami gangguan psikis, dia akan merasa sangat gelisah jika tidak dapat bertemu dengan orang yang dicintainya itu  
  4. Al Isyqun (mabuk cinta), yakni perasaan cinta yang menggebu saat pihak yang dicintai dapat menguasai semua ruang cinta dalam kalbunya. Pikiran orang dalam tingkatan ini akan selalu dipenuhi oleh cinta. Tidak ada bayangan yang hadir kecuali bayangan sang kekasih. Ia selalu menyebut dan memikirkannya. Orang seperti ini bagaikan lembu terpenjara di kandang yang sempit, dia tidak bisa lolos dari bayang-bayang orang yang dicintainya. Dia tidak dapat bergerak kedepan, kebelakang, ke kiri, dan ke kanan.



Dari semua tingkatan yang ada tingkatan yang keempat inilah yang paling berbahaya. Orang yang terkena Al Isyqun (mabuk cinta) akan sangat TEROBSESI dengan pacarnya, segala sesuatu yang ada pada dirinya baik itu hati, pikiran, perasan, nalar, akal sehat, dan logika orang tersebut hanya dituju kepada PACARNYA Jika seseorang telah mencapai tingkatan ini maka hatinya berstatus MATI. Lain hal dengan hati pada tingkatan cinta lainnya yang masih berstatus sakit, hati yang sakit dapat disembuhkan sedangkan HATI YANG MATI? Hati yang mati inilah yang dengan mudahnya syaitan mengambil kontrol orang tersebut untuk membisik-bisikkan ajakan sesat. Syaitan akan mudah masuk dari segala penjuru untuk mendorong seseorang melakukan hal yang sangat keji kepada PACARNYA baik itu tindak kekerasan, pemerkosaan, dan bahkan pembunuhan. Hati yang mati tidak ada lagi perlindungan untuk menangkal bisikan syaitan yang terkutuk dan hasilnya adalah berita mengenai kasus-kasus pemerkosaan yang kita dengarkan sekarang.

Padahal Allah swt sudah memperingatkan kita didalam firmannya Surah An-Nur: 30 yang artinya:
"Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara pandangannya, dan memelihara kemaluannya  yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah maha mengetahui apa yang mereka perbuat."
Kemudian firmannya didalam surah Al-Israa': 32 yang artinya:
"Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk."

Sangat jelas Allah telah memperingatkan kita untuk senantiasa menjaga pandangan kita dan melarang kita untuk mendekati zina. Hal ini Allah swt perintahkan bukan tanpa ada alasan tetapi untuk menjaga kita dari hal-hal yang tidak diinginkan, SUBHANALLAH. Maka dari itu hendaknya kita dapat menjaga diri kita, keluarga, kerabat, dan teman-teman kita dari kedua hal ini agar kita terhindar dari kesesatan syaitan dan selamat dunia dan akhirat.

WALLAHU A'LAM.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar