Jam Kuto
Aku adalah seorang mahasiswa yang
berkuliah di salah satu universitas negeri ternama di Sumatera Selatan.
Fakultas keguruan dan ilmu pendidikan adalah fakultas dimana aku menuntut ilmu untuk
jenjang strata satu ini. Di kampus biru inilah aku memulai perjuanganku sebagai
seorang mahasiswa dan sebagai aktivis. Tidak ada yang spesial dariku, aku hanya
seorang mahasiswa yang mempunyai mimpi yang InsyaALLAH mulia di mata Allah.
Di ruang sekretariat
organisasi mahasiswa inilah kurancang impian ini. Ruangan yang luasnya sama
seperti ruang kelas yang di dalamnya terdapat dua unit sofa, dua rak buku, dan
satu unit komputer. Lantai yang beralaskan karpet berwarna biru dan dinding
yang dihiasi dengan hiasan dari oleh-oleh universitas lain menambah cantik
ruangan ini. Aku duduk di sofa ini dengan pensil digenggamanku yang siap kuhunuskan
di buku gambar ini. Kucurahkan
semua ide dan imajinasi yang kemudian kutuangkan lewat ukiran dari goresan-goresan pensil
membentuk
sebuah rancangan masa depanku. Ini adalah sebuah impian yang akan kuwujudkan di
masa yang akan datang sebagai wujud cintaku kepadaNya. Aku terinsipirasi dengan
kisah Nabi Ibrahim A.S saat beliau membangun Ka’bah sebagai wujud nyata
cintanya kepada sang Ilahi. Dari situlah timbul ide ini yang kelak akan aku wujudkan di masa depan tanpa rasa ragu dan
penuh keikhlasan hanya untuk-Nya.
Disaat aku sedang khusyuknya merancang impianku ini terdengarlah suara seorang
wanita memanggilku.
“Assalamu’alaykum, eh Ali ada kamu disini.
Sedang
apa kamu?” Kemudian ia
masuk lalu duduk lesehan.
Aku menoleh, meletakkan
pensil dan turun dari tempat dudukku “wa’alaykumussalam, Ayu, oh aku
sedang menggambar sesuatu.”
“Memangnya
kamu sedang menggambar apa?” Tanyanya
penasaran.
“Aku
sedang menggambar impianku di masa depan, Ayu. Apa kamu ingin melihatnya?”
“Tentu
saja boleh mana sini biar kulihat.” Kemudian aku tunjukkan gambarku ini kepadanya.
“Gambar
ini terlihat seperti menara yang ada jamnya. Kenapa kamu menggambar ini?”
“Ini
adalah impianku Ayu. Kelak kalau aku sukses nanti akan kubangun menara jam ini di plaza BKB (Benteng Kuto Besak).”
“Kamukan kuliah di FKIP. Apa bisa kamu membangun menara ini?”
“Apa
yang tidak mungkin di dunia ini? InsyaAllah kalau niat kita tulus karena Allah
hal yang tidak mungkin akan menjadi mungkin termasuk impianku ini hehehehe.”
“Aamiin.
Optimis
sekali kamu. Oh iya, apa
nama untuk menara jam ini Ali?”
“Iya
dong kita harus selalu optimis untuk mewujudkan impian kita. Menara jam ini kunamai Jam Kuto.”
“Jam Kuto?” Ayu menyeringetkan
dahinya. “Apa artinya Ali?”
“Jam artinya jam dan Kuto berasal dari bahasa Palembang yang
artinya kota. Jadi, jam kuto artinya jam kota.”
“Cocok sekali nama itu untuk
menara jam ini.”
“Alhamdulillah kalau cocok.
Ayu,
maukah kamu
berjanji kepadaku satu hal?”
“Janji
apa Ali?”
“Kalau
menara ini berhasil aku bangun berjanjilah untuk menemuiku di sana selepas zuhur.”
“Kenapa
harus aku yang datang? Kenapa tidak yang lain saja?” Tanyanya heran.
“Pokoknya aku maunya kamu yang datang titik.” Ucapku menggodanya. Sejurus kemudian, kulihat pipinya
merona bersamaan senyumnya yang mengembang.
“Kamu
ini ada-ada
saja Ali.” Sambil tersenyum.
“Berjanjilah
Ayu kamu
akan menemuiku disana.” Tegasku.
“Oke. Aku janji.”
“Janji
ya, dan janji itu harus ditepati.”
sambil mengacungkan jari kelingkingku.
“Iya
Ali aku janji.”
Balasnya dengan mengacungkan jari kelingkingnya.
Hari
itu, kami ikrarkan janji ini,
dan hari ini pula yang akan menjadi saksi bahwa kami akan bertemu ketika impian
itu terwujud.
Di sana. Di Benteng Kuto Besak.
Ini
bukan pertama kalinya aku dan Ayu bertemu. Aku sudah mengenalnya cukup lama. Kami satu perjuangan di salah satu
organisasi mahasiswa di
fakultas kami kuliah. Orangnya menarik dan asik. Dengan jilbab lebar menjulur hingga ke dada dan baju gamis yang ia kenakan serta mata
yang seperti bola
pingpong namun agak sipit tingginya pun hampir sama
denganku. Tapi, bukan tampilan fisiknya yang membuat ia menarik walaupun memang
dia cantik. Kecantikana imannyalah yang membuat ia menjadi menarik. Dia adalah akhwat yang taat dengan agama dan tak
jarang pula kami saling mengingatkan satu sama lain jika kami lalai menjalankan
perintah Allah dan Sunnah Rosul. Kami
berdua sangat dekat padahal kami berbeda program studi, aku di program studi
pendidikan Bahasa Inggris dan dia di pendidikan Sejarah.
Masih teringat dengan jelas
di benak ini hal-hal yang telah kami lewati bersama saat berjuang di organisasi
kampus ini. Senang, susah, dan bahkan saling tidak seteguran pernah kami alami
bersama. Namun yang paling berkesan adalah saat di mana aku di amanahkan oleh
senior untuk memimpin suatu kegiatan. Berat rasanya menjadi pemimpin suatu
kegiatan ditambah lagi ini adalah pengalaman pertamaku dalama hal ini. Namun dia
selalu ada menemaniku untuk melaksanakan amanah ini. Apapun yang aku
perintahkan selalu ia turuti tanpa mengeluh sedikitpun dan ia selalu menjawab iya akhi, InsyaALLAH aku sanggup.
Diantara rekan wanita di
organisasi ini hanya dia yang dengan senang hati menuruti perintahku. Dia
selalu ada di saat aku butuhkan ketika rapat berlangsung membahas susunan acara
dia yang mencatat setiap detil rancangan acara, menghubungi rekan-rekan yang
lain, menemaniku di sekretariat dan lain-lain. Sungguh dia sangat berbeda dari
yang lain dan inilah yang membuatnya sangat istimewa.
Hari demi hari, waktu demi
waktu telah kami lewati bersama dan tak terasa kami menjadi semakin dekat. Ada
suatu rasa yang mulai tumbuh di hati ini sehingga membuat batinku gundah. Ya,
aku jatuh cinta kepadanya. Perlahan namun pasti fitrah ini terus tumbuh di
dalam hati ini.
Fitrah ini semakin di uji
kesuciannya. Di balik keakraban ini aku merasa ada yang salah. Perlahan bukan
atas kesucian ini aku berinteraksi dengannya melainkan hanya mengikuti hawa
nafsuku saja. Aku khawatir akan iman ini dan sejak itulah kuputuskan untuk
menjauhinya dalam beberapa waktu kedepan. Aku berusaha keras agar iman ini
tetap kuat, segala upaya telah aku lakukan mulai dari bertilawah rutin selepas
maghrib, menghadiri majelis ilmu, dan mempelajari ilmu tentang berinteraksi
dengan lawan jenis. Tak hanya sampai disitu, aku juga meminta pendapat dengan
rekan seperjuangan yang lain dan pendapat murrobiku.
Hasilnya tetap sama, hanya satu. Nikahi dia atau lepaskan. Batinku jungkir
balik, aku bingung harus memilih pilihan yang mana. Hati ini mejadi gelisah tak
tahu harus berbuat apa. Aku pasrah. Aku berserah. Semua ikhtiar telah aku
lakukan. Lewat sujudku di sepertiga malam ku ungkapakan semua keluh kesahku
terhadap masalah ini kepada-Nya. Aku berdoa agar Ia membimbingku dalam memilih
pilihan yang tepat dalam mengatasi masalah ini.
Akhirnya aku menemukan
jawaban untuk semua ini. Aku sangat yakin sekali dengan pilihan ini. Sudah aku
putuskan aku akan menikahinya. Akan tetapi . . . .
Saat itu aku sedang online
di Facebook dan iseng-iseng aku
mengintip akun FB miliknya. Aku lihat beranda facebooknya tampak banyak status
dan postingan berbau Islami tidak ada yang salah dengan semua itu namun ada hal
yang mengganjil terjadi, aku tidak bisa memberikan komentar di status atau
postingan lain miliknya. Aku terheran kenapa aku tidak bisa melakukan itu dan
tanpa sengaja aku melihat sudut kanan foto sampul akunnya dan kulihat ada
keterangan bahwa aku tidak lagi berteman dengannya di facebook. Ya, aku
diremove olehnya. Aku diremove?
spontan pertanyaan itu keluar dari mulutku saat itu. Aku bingung, aku mencoba
mengkoreksi diri ini dengan mengingat hal-hal yang lalu apakah sebelumnya aku
pernah membuatnya tersinggung. Tapi aku sudah lama tidak tatap muka dengannya
jangankan bertatap muka, berbalas pesan singkat dan chatting di Facebook saja
tidak.
Esok harinya aku pergi
kekampus menjalani aktivitas seperti biasa. Tampak dari kejauhan aku melihat
seorang mahasiswi berpakaian serba hitam mulai dari baju gamis, jilbab lebar
yang menjulur hingga ke bagian perutnya, dan cadar yang menutupi hidung dan
mulatnya. Hanya matanya saja yang terlihat saat itu. Aku semakin penasaran
siapa gerangan mahasiswi itu kemudian aku mempercepat langkahku untuk menemuinya.
Jarak kami sudah dekat kira-kira hanya berkisar dua meter saja dan alangkah
terkejutnya aku ketika ku tatap matanya. Aku takkan pernah lupa dengan cirri
khasnya dia dengan bola mata seperti bola pingpong itu. Sosok mahasiswi itu
adalah Ayu. Spontan mulut ini terkunci saat aku hendak ingin menyapanya, mulut
ini terkunci dengan tatapan matanya yang sangat dingin. Dia hanya melihatku tak
sampai satu detik kemudian dia membuang pandangnnya dariku dan menundukkan
pandangannya ke tanah seakan aku ini lebih hina dari tanah yang kotor. Aku
seperti orang asing saja, ia tampak tak mengenaliku lagi.
Kampus menjadi geger, tidak
hanya Ayu yang berubah ada tiga temannya yang berjuang sama seperti dia. Kadang
harapan tak sesuai dengan apa yang diperjuangkan. Itulah yang mungkin dirasakan
Ayu sekarang yang berjuang untuk tetap istiqomah dijalan-Nya dengan cadar yang
ia kenakan. Namun kenyataan memang tidak berpihak kepadanya, reaksi orang-orang
di sekitar kampus amat negatif. Mereka menganggap dia yang tidak-tidak dan
bahkan menuduhnya sebagai teroris. Rekan-rekan seperjuangan juga merespon
dengan tanggapan yang tidak baik dan diapun dikucilkan. Hanya sebagian kecil
yang dapat menerima perubahannya ini. Keadaanpun semakin runyam dengan reaksi
petinggi-petinggi kampus yang berang dengan perubahannya ini membuat
perjuangannya amat terasa berat. Tidak ada yang mendukung hijrahnya.
Sungguh kejam memang kenyataan
yang dia hadapinya namun mereka tidak tahu apa yang diniatkan dihatinya dan aku
percaya bahwa dia berhijrah hanya semata-mata mematuhi apa yang Allah
perintahkan. Walau bagaimanapun aku tetap mempercayainya meski hanya aku satu-satunya
orang didunia ini yang mendukung hijrahnya dan hanya untaian do’a ini yang
dapat aku sampaikan kepada sang Ilahi agar dia diberi kesabaran dalam
beristiqomah dijalan-Nya.
Alhamdulillah aku bersyukur
memiliki keluarga yang bekerja di pemerintahan. Jadi aku bisa mendapatkan
informasi yang InsyaALLAH dapat membantunya. Dari informasi inilah aku selalu
mengingatkan dia untuk selalu berhati-hati. Namun sayang aku tidak dapat
menghubunginya langsung karena dia memutuskan semua kontak denganku sehingga
kepada temannyalah aku dapat memberikan informasi ini demi menyelamatkan dia
dan teman sejawatnya. Di saat semua terasa berjalan lancar justru hal yang
tidak diinginkan pun terjadi. Para petinggi universitas mengklaim dia dan
rekan-rekan seperjuangnya terlibat organisasi radikal ISIS. Mereka berniat
untuk mengeluarkan mereka jika memang terbukti kalian anggota organisasi
tersebut. Hal ini pastinya tentu sangat mengejutkannya dan juga aku. Melalui
pihak fakultas kalian diintrogasi untuk dimintai klarifikasi mengenai perubahan
kalian. Dan sekali lagi pertolongan Allah amat dekat ada beberapa rekan-rekan
eksekutif mahasiswa yang bersedia membela kalian lewat audiensi bersama dekan
dan tentunya ini menjadi suatu titik terang bagi kalian untuk selamat dari
buruk sangka ini.
Hasil audiensi menyatakan
bahwa mereka tidak akan di keluarkan dari kampus jika memang mereka terbukti
bukan anggota ISIS. Malam itu aku mengintip lagi akun FB miliknya. Aku sangat
terkejut kali ini kulihat ada beberapa postingan berbau ISIS. Aku tidak mau su’uzon dengannya aku ingin membuktikan bahwa dia tidak
seperti apa yang aku pikirkan. Esok harinya kuyakinkan diri ini untuk
menemuinya langsung. Seluk beluk kampus biru ini sudah aku telusuri namun
hasilnya nihil aku tidak menemukan keberadaannya. Kemudian aku berjalan
menelusuri jalan yang membagi lapangan basket dan tanah kosong dan kulihat dia
sedang berjalan menuju terminal yang sepertinya dia akan pulang.
“Ayu tunggu!” Aku
meneriakinya dari kejauhan. Dia tidak menoleh kearahku dan meneruskan
langkahnya. Kemudian aku berlari menghampirinya.
“Ayu!” Teriakku lebih keras.
Dia menghentikan langkahnya. Menoleh kearahku yang hampir semaput.
“Ada apa Ali? Aku sedang
buru-buru.” Sambil mengatur nafasku yang lepas landas dari paru-paru ini
kemudian aku bicara kepadanya.
“Ayu, apa benar kamu
terlibat ISIS?”
“Tidak Ali”
“Kau bohong Ayu! Aku melihat
postingan berbau ISIS di beranda Facebookmu.”
“Iya, memang benar aku
mempostingnya karena aku berpikiran yang sama seperti organisasi itu.”
“Berarti memang benar kamu terlibat
dengan organisasi itu?”
“Tidak Ali, aku hanya
pengagum saja. Aku bukanlah anggota ISIS.”
“Astagfirullah, Ayu.
Walaupun pengagum, kamu tahukan kalau ISIS itu menyimpang dari syariat Islam?”
Nadaku mulai meninggi.
“Lantas sistem yang kita
anut ini apakah berlandaskan dengan syariat Islam?” Balasnya dengan nada yang
meninggi pula.
“Tidakkah yang kita lakukan
bersama selama ini hanya untuk kepentingan umat Ayu? Tidakkah kau ingat itu?”
“Aku ingat Ali dan justru
itu aku sadar bahwa apa yang kita lakukan bukanlah untuk kepentingan umat
melainkan untuk kepentingan suatu golongan.”
“Kau terlalu berburuk sangka,
Ayu.” Nadaku mulai kembali normal.
“Kau sama saja seperti yang
lainnya Ali, menolak syariat Islam dan lebih memilih sistem yang kufur. Aku
ragu apa kamu ini seorang muslim sejati dan bisa jadi kamu ini seorang penghianat
Islam.”
Sungguh aku tidak menyangka
kata-kata itu keluar dari lisannya. Apa yang sebenarnya terjadi selama kami
tidak bertemu. Aku tidak percaya dia yang dahulunya selalu mengeluarkan kata-kata
yang menyejukkan kini malah seperti belati yang menghujam hati ini dengan
pedihnya.
“Kalau
aku memang bukanlah seorang muslim sejati dan bahkan menurutmu aku ini sebagai
pengkhianat Islam. Ambil sebongkah batu besar di dekatmu itu. Hantamlah aku! rajam
aku
dengan batu itu!”
“Apa maksudmu Ali?” Tanya Ayu bingung.
“Jika menurutmu aku ini penghianat Islam, secara tak
langsung aku ini kafir. Rajamlah aku Ayu!”
“Apa yang kamu pikirkan, Ali?
Aku tidak bisa melakukannya!” Suaranya meninggi. Kulihat mata bola pingpong
sipit itu mulai berkaca-kaca.
“Kenapa? Janganlah kau ragu
Ayu, Aku IKHLAS kau rajam.”
Diapun
terdiam. Kulihat
air matanya perlahan mengalir
dan menjadi derasnya. Isak tangisnya pun pecah tak bisa ia bendung lagi dan tanpa ia
sadari cadarnya menjadi basah karena derasnya air mata yang mengalir. Untuk
pertama kalinya aku melihat ia menangis seperti itu. Tak tega aku melihatnya
tapi apa daya aku hanya dapat diam menyaksikan. Tak sepatah katapun keluar dari
mulutnya begitu juga
dengan diriku kemudian ia berbalik
dan pergi meninggalkanku.
Husnudzon, hanya pemikiran itu yang ada dibenak ini. Aku yakin
bahwa dia tidak seperti yang aku pikirkan. Dia telah menerangkan bahwa dia
bukanlah anggota organisasi itu dan dia juga telah terbebas dari tuduhan
teroris sehingga pihak universitas membatalkan rencananya untuk mengkeluarkannya
dan rekan-rekannya. Aku bersyukur dengan kabar yang baik ini namun sekali lagi
aku tidak bisa menebak apa yang ada di pikirannya.
Aku mendapat kabar dari
rekan yang lain bahwa dia akan pindah kuliah ke universitas lain. Padahal dia
sudah mendapatkan kesempatan untuk berkuliah disini tapi kenapa dia membuat
keputusan yang mengecewakan ini. Memang sakit rasanya dikucilkan oleh masyarakat
kampus dengan perubahannya yang sekarang ini tapi dia masih mempunyai mimpi dan
harapan di kampus ini. Sekali lagi aku tidak mengerti jalan pikirannya. Kucari
segala informasi mengenai kapan dia akan pindah dan kudapati besok pagi jam 10
di stasiun kereta api Kertapati dia akan pergi ke kampung halamannya di
Baturaja. Ku kosongkan semua agendaku termasuk kuliah hanya untuk menemuinya
esok hari dan mungkin ini pertemuan terakhirku dengannya.
Aku
telah sampai di stasiun. Kulihat jam tanganku menunjukkan lima menit lagi sebelum
jam sepuluh kemudian aku
bergegas masuk ke stasiun. Di stasiun hanya orang yang memilik
tiket yang boleh masuk ke dalam ruang tunggu karena aku tidak membawa uang
lebih aku memutar otak mencari cara agar bisa masuk ke ruang itu. Kulihat di antrian pengecekan tiket ada sebuah pintu
tempat keluar masuk penumpang yang telah dicek tiketnya. Dengan bermodalkan
nekad aku menerobos masuk lewat pintu tersebut. Setelah berhasil tanpa membuat
petugas stasiun curiga aku mulai mencarinya
dari gerbong belakang, namu tidak
ada sosok yang kukenal disana kemudian kutelusuri lagi tiap-tiap gerbong
hingga ke gerbong pertama dan
hasilnya tetap sama tak kulihat ia disana. Aku mulai frustasi
dan bingung kemana ia berada. Secara spontan mata ini melirik keruang tunggu
dan kulihat seorang wanita sedang duduk membaca Al-Qur’an berpenampilan
mencolok berbaju gamis dan jilbab lebar berwarna
coklat dengan cadar menutupi hidung dan mulutnya.
Aku yakin sekali itu pasti
dia kemudian aku memanggilnya. Diapun menoleh kearahku, seketika
ia hentikan tilawahnya dia melihatku dengan mata terbuka lebar seolah tak
percaya bahwa aku ada disana. Terlihat
jelas dia sangat terkejut melihat kedatanganku.
“Ali,
apa yang kamu lakukan disini?
Ayu berdiri. Menatapku bingung. Bukankah aku tidak memberitahumu tentang
kepergianku? Bukankah saat ini harusnya kamu kuliah?” tanyanya
padaku.
“Allah memberikan petunjuk sehingga aku bisa tahu kau
ada disini dan Kebetulan juga dosen kami tidak masuk beliau sedang ada tugas di
luar kota. Ayu, sebelum kamu pergi aku ingin mengucapkan
salam perpisahan untukmu.”
Aku berbohong padanya kalau
dosenku berhalangan hadir semua demi untuk hari ini.
“Ali, mungkin kau sudah tahu
kalau aku akan pindah kuliah.”
“Kenapa kau ingin pindah? Bukankah
pihak universitas telah mengizinkanmu berkuliah lagi?”
“Tidak ada tempat untuk
orang sepertiku di sana, Ali.” Dia menunduk.
“Tidak usah kau dengar
perkataan mereka, kau masih mempunyai mimpi yang harus kau raih. Pulanglah,
Ayu. Urungkanlah niatmu untuk pindah.”
“Keputusanku sudah bulat
Ali.” Dia kembali mendongakkan kepalanya.
Dengan tatapan matanya yang
tajam aku tahu kalau dia sangat serius atas apa yang ia pilih. Aku tidak bisa
membujuknya lagi untuk mengubah keputusannya.
“Ali, Kenapa kamu melakukan
semua ini?”
“Apa maksudmu?”
“Kau selalu peduli padaku
padahal aku belum pernah membalas kebaikanmu ini dan bahkan aku pernah
mengacuhkanmu.”
“Karena aku percaya padamu. Perjuanganmu
ini kau lakukan semata-mata karena Allah dan sudah sepantasnya aku menolong
orang yang berjuang dijalan-Nya.”
Dia terdiam, dengan tatapan
matamu yang lebar dan alismu yang mengerut bisa kulihat bahwa kau tahu kalau
aku menyembunyikan apa yang ingin kukatakan sebenarnya. Ingin sekali kukatakan bahwa aku mencintaimu
tapi apa daya lisan ini amat lemah untuk kugerakkan. Terdengarlah suara tanda
kereta akan segera berangkat, penumpang yang menunggu di ruangan ini pun
berbondong-bondong masuk ke kereta tapi dia tetap berdiri di hadapanku.
“Ayu, sebaiknya kau
bergegas. Keretamu akan segera berangkat.”
Diapun mengambil tasnya dan
dengan langkah pelan dia meninggalkanku. Selang beberapa langkah ia berbalik
dan mengatakan sesuatu padaku.
“Ali. . . . terima kasih
untuk semuanya.” Dia berkata demikian dengan mata yang agak menyipit dia tersenyum walaupun senyumnya bersembunyi
di balik cadarnya itu.
Itu adalah kata-kata
terindah yang dia ucapakan kepadaku. Langkah ini dengan sendirinya mengikutinya.
Diapun masuk kedalam kereta di gerbong ketiga dan duduk dibagian kanan gerbong.
Sambil mengetuk kaca jendela
kereta disampingnya “Ayu! Ayu! Ayu!”
“Ali?! Apa yang kau lakukan?
Ini berbahaya!” Spontan dia bangkit dari tempat duduknya terkejut dengan apa
yang aku lakukan.
Keretapun menambah
kecepatannya. Lajunya kini semakin cepat, akupun tak mau kalah dengan kereta
ini. Kupercepat lajuku untuk mengejarnya demi menyatakan apa yang seharusnya
kukatakan dahulu.
“Ayu! Aku ingin berkta jujur
kepadamu”
“Kau bisa celaka Ali! Stop!
Hentikan ini!”
“Ayu, ANA UHIBUKI FILLAH!
Berjanjilah untuk menemuiku di Jam Kuto!
“Ali. . . .” Walaupun dia
diam aku tetap menatap dan mengejarnya menunggu jawaban darinya apakah ia akan
berjanji kepadaku. Dan tanpa kusadari tak kulihat lagi ujung jalan yang curam
sehingga aku terjatuh dan seketika tangan dan kakiku terluka.
“Berjanjilah Ayu!” Sambil
menahan rasa sakit. Aku bangkit dan mencoba untuk tetap mengejarnya.
“Aku janji Ali! Aku akan
menemuimu!” Dan diapun berlalu.
Hari itu adalah hari terakhir aku melihatnya dan ini
mungkin untuk selamanya. Aku mencoba bangkit dan tegar walaupun lisan dan hati
berkata ikhlas namun jauh di dalam fitrah ini berat untuk menerima semuanya. Kenapa ini semua harus terjadi? Salahkah jika aku terlalu berharap kepadamu Ayu?
Aku mencoba untuk sabar dan berdoa kepada Allah untuk dikuatkan dalam menghadapi
kenyataan yang pahit ini. Aku merenung dan bermuhasabah apa karena aku yang
menyebabkan semua ini terjadi padanya. Teringat dibenakku suatu perkataan Imam
Syafi’i “ketika
hatimu terlalu berharap kepada seseorang maka Allah timpakan ke atas kamu
pedihnya sebuah pengharapan, supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat
mencemburui hati yang berharap selain Dia. Maka Allah menghalangimu dari
perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepada-Nya.”
Maafkan aku, Ayu. Karena
pengharapanku yang berlebihan inilah yang menyebabkan engkau menghadapi ini
semua dan karena hal inilah aku melupakanmu, ya Robbi. Allah cemburu dan memisahkanku dengan dirinya agar aku tidak terlalu berharap kepadanya.
“Astaghfirullah. Ya Allah ampuni hamba atas dosa ini.” Aku beristighfar, betapa
bodohnya aku yang terbuai dengan suatu pengharapan yang menghancurkan fitrah
ini. Kini aku sadar bahwa selama ini tidak sepenuhnya aku mencintainya karena
Allah. Niat di dalam fitrah ini harus diluruskan agar ikrar yang pernah
kuucapkan kepadanya waktu itu menjadi fitrah yang suci serta seantiasa di
ridhoi oleh-Nya.
Kujalani hari-hariku seperti
biasa walaupun semuanya tampak berjalan mulus namun masih ada yang kurang. Aku merindukanmu, Ayu. Sudah hampir satu
tahun sejak dia meninggalkan kampus sepi rasanya tanpa kehadirannya. Aku
bukannya tidak bersyukur kepada sang Ilahi atas nikmat teman yang seiman dan
satu pandangan tapi aku tidak bisa membohongi hati ini. Walaupun kututupi
dengan rapat dan mencoba untuk tidak menoleh ke masa itu jujur aku masih merindukannya.
Satu tahun lagi perjuangan menuntut ilmu di kampus biru ini dan setelah aku
wisuda nanti akan kuperjuangkan janji ini.
Wisuda yang ke-124. Di
wisuda inilah aku mengenakan pakaian toga. Pakaian yang selalu di idam-idamkan
mahasiswa selama empat tahun berkuliah. Di auditorium ini perjuanganku menuntut
ilmu berakhir yang disertai dengan mulainya perjuangan baruku di ruang lingkup
kehidupan masyarakat. Kehidupan yang selalu kami perjuangkan sebagai seorang
aktivis.
Pasca wisuda kumulai
lembaran hidup yang baru di dunia masyarakat. Kuterapkan ilmu yang telah aku
pelajari selama empat tahun berkuliah salah satunya menjadi pendidik di suatu
sekolah. Tak hanya itu segala peluang yang ada kugunakan dengan sebaik-baiknya.
Keras memang lembaran hidup yang baru ini beda sekali degan orang lain katakan.
Butuh modal yang besar untuk
mewujudkan mimpi ini. Selain uang, ilmu menjadi salah satu modal utama untuk
mendukung mimpi ini. Ibuku mempunyai resep tersendiri dalam memasak masakan
khas Palembang. Aku belajar darinya bagaimana membuat pempek beserta cukanya
dengan cita rasa yang lain. Rumit memang mempelajari hal baru yang aku temui.
Tekad yang kuat untuk mimpi inilah modal utamaku dalam mempelajarinya. Aku
membuka usahaku di bidang kuliner. Masakan khas Palembang. Mulanya memang
sakit. Sepi pengujung, buruknya mengatur keuangan, persaingan, dan lain-lain.
Aku selalu mencari solusi untuk setiap permasalahan di dunia wirausaha ini dan
lambat laun semua masalah dapat teratasi. Dengan segudang masalah inilah yang
membuat aku semakin gigih untuk terus berusaha dan ternyata benar pepatah “hasil
tidak akan pernah menghianati proses.” Berkat ini semua aku dapat membagun
cabang usahaku di kotaku hingga tersebar ke seluruh pelosok Indonesia. Hasil
dari usaha inilah yang akan kugunakan untuk membangun mimpiku. Modal
finansialpun terasa cukup untuk membangun mimpi ini dan kumulailah langkah awal
untuk membangunnya.
Lewat sahabatku yang seorang
arsitek terkenal aku memintanya untuk merancang jam kuto. Dia sungguh ahli di
bidangnya dan tidak main-main dalam merancang jam ini. Setelah serangkaian
rancangan rumit dibuatnya akhirnya jadilah rancangan akhir yang akan mewujudkan
mimpi ini. Atapnya berbentuk limas khas Palembang yang di sisi kanan dan kiri
atap terdapat kuku-kuku seperti tanduk dan di tengah atapnya terdapat mahkota
yang dalam bahasa Palembang disebut simbar.
Lonceng jam ini didatangkan langsung dari pabrikan Jerman. Mesin jam ini
digerakkan secara mekanik seperti jam Big Ben dan jam Gadang. Di bagian badan
jam terdapat ukiran khas Palembang yang didominasi dengan warna merah dan
kaligrafi Asmaul-husna. Pada bagian jamnya ditulis dengan angka Arab dan
terdapat asma Allah di atasnya. Tinggi menara jam ini mencapai dua puluh
delapan meter. Luas denahnya mencapai lima belas kali empat meter. Jam ini akan
menjadi ikon baru untuk kotaku tercinta sekaligus menjadi bukti nyata
kecintaanku pada-Nya. Aku berharap kehadiran jam ini dapat membuat orang-orang
disekitar jam ini dapat mengingat waktu dan mengingat kewajibannya sebagai
hamba-Nya.
Biaya yang dikeluarkan untuk
membangun jam ini berkisar milyaran rupiah. Tidak terlalu menjadi masalah
buatku. Yang menjadi masalah adalah dalam menghadapi birokrasi dengan
pemerintah. Rumit dan banyak persyaratan yang memusingkan menjadi kendala yang
nyata dalam membangun mimpi ini. Tak hanya itu, kritikpun tercurah oleh
serangkaian masyarakat dengan dibangunnya jam ini. Sekali lagi pertolongan
Allah amat dekat, Dia maha pembolak balik hati. Kuyakinkan pemerintah dan
masyarakat bahwa pembangunan jam ini akan berdampak positif untuk kota ini.
Serangkaian penjelasan telah disampaikan kepada mereka. Awalnya mereka bersikukuh
untuk menolak Jam Kuto namun lama-kelamaan mereka dapat menerimanya dengan
terbuka. Telah diambil keputusan bahwa jam kuto akan dibangun.
Akhirnya jam mimpi ini telah
selesai dibangun. Lokasi dibagunnya jam ini pun sesuai dengan yang diharapkan.
Jam ini dibagun di plaza Benteng Kuto Besak. Peresmian jam ini ditandai
dengan pembunyian lonceng pertama dan dihadiri oleh pejabat kota dan provinsi.
Setelah melewati perjuangan yang panjang akhirnya mimpi ini terwujud. Telah
kutepati janjiku kepada sang Ilahi dan kini akan kutepati janjiku yang kedua.
Menunggu Ayu di jam ini. Usai peresmian Jam Kuto aku mencari dia di sekitaran
jam namun hasilnya nihil. Esok harinya aku melakukan hal yang sama, selepas zuhur kutunggu dia di jam ini namun dia tidak kunjung
datang. Kulakukan hali ini terus menerus hingga keluarga dan rekan-rekan yang
lain merasa risau dan kasihan melihat yang aku lakukan ini. Ketika mereka
bertanya “untuk apa kamu menunggu wanita itu? belum tentu dia akan datang dan
bisa jadi dia telah menikah dan melupakan janjinya ini” aku selalu menjawab
“Aku seorang muslim. Seorang muslim sejati harus menepati janjinya.”
Jika boleh jujur aku juga
merasa hal yang sama seperti apa yang mereka katakan. Apa dia masih mengingat janjinya? Sampai kapan aku harus menunggunya? Terlintas
di benak ini pemikiran tersebut. Aku harus sabar karena aku yakin Allah maha
menepati janji-Nya. Ini adalah ujian dari-Nya dan jika aku lulus dari ujian ini
aku yakin Dia akan menganugerahiku dengan sesuatu yang tak terbayangkan. Berat
memang ujian untuk kesabaran ini, sudah hampir satu tahun aku menunggunya namun
ia tak kunjung datang.
Malam itu, saat aku selesai
sholat Isya handphone milikku
berbunyi. Aku ditelepon oleh nomor yang tidak kukenal. Kuangkat telepon itu dan
terdengarlah suara seorang wanita.
“Assalamu’alaykum, Ali.”
“Wa’alaykumussalam, Siapa
ini?” Jawabku penasaran.
“Maaf membuatmu menunggu
lama Ali, Besok aku akan memenuhi janjiku. Assalamu’alaykum.”
“Ayu apa ini kamu? Halo!
Halo!” Sontak diri ini terkejut dengan pernyataan wanita ini.
Teleponnya terputus.
Perasaan ini bercampur. Apa benar yang meneleponku barusan adalah Ayu atau
orang yang iseng. Kucoba menelepon balik nomor itu tapi nomor itu tidak bisa
dihubungi lagi.
Esoknya kutunggu orang yang
meneleponku semalam di jam kuto. Dari pagi aku tunggu wanita itu namun dia
tidak menghampiriku. Waktu menujukkan hampir memasuki waktu zuhur. Aku memutuskan untuk sholat terlebih dahulu dan
setelah itu melanjutkannya lagi. Bakda zuhur kulanjutkan lagi menunggu wanita itu. Tiga puluh
menit aku menunggu dan jam ditanganku menunjukkan jam setengah dua siang dan
kudapati wanita itu tidak muncul. Kuputuskan untuk pulang. Saat kulangkahkan
kaki ini beberapa meter dari Jam Kuto kulihat sosok yang kukenal. Sosok itu
kelihatan mencolok dari orang-orang disekitarnya. Sosok itupun menghampiriku.
“Assalamu’alaykum, Ali. Lama
tak jumpa.” Aku membeku. Aku sungguh tidak percaya dengan apa yang aku lihat.
Sosok itu adalah Ayu.
“Wa’alaykumussalam. Ayu,
akhirnya kau datang.” Tak bisa kubendung lagi air mata ini untuk jatuh. Aku
sungguh bahagia. Dia telah menepati janjinya.
“Ali, maafkan aku telah
membuatmu menunggu selama satu tahun.” Matanyapun membalas. Air matanya jatuh
dengan derasnya.
“Tidak. Justru akulah yang
harusnya minta maaf. Aku telah membuatmu menunggu selama enam tahun.”
“Kau selalu menyalahkan
dirimu Ali.” Bisa kudengar isak tangisnya saat dia berkata seperti itu.
“Tidak apa-apa Ayu. Kemana
saja kamu selama ini?”
“Setelah aku pindah aku
menimba ilmu di pondok pesantren.”
“Alhamdulillah selama ini
kamu melakukan hal yang mulia. Apa kau datang sendirian? Mana suamimu?”
“Dia ada di depanku” Kulihat
mata pimpong itu menyipit. Aku tahu dibalik cadarnya, ia tersenyum.
Dengan polosnya diri ini
menoleh kebelakang, kucari orang yang menjadi suaminya. Ternyata aku baru sadar
ternyata yang dimaksudnya itu adalah aku.
“Apa maksudmu, Ayu?”
“Ali kau telah melakukan
banyak hal untukku. Satupun kebaikanmu ini belum pernah aku balas. Ali aku
ingin sekali kukatakan yang sejujurnya kepadamu. Maukah kau . . . .”
“Ayu, maukah kau menikah
denganku?” Sekejap kupotong pembicaraanya dan kukatakan hal yang seharusnya aku
katakan.
“Apa kau mau menikah dengan
wanita sepertiku?” Dia terkejut. Matanyapun berkaca-kaca.
“Justru kebalikannya, maukah
kau menikah dengan laki-laki seperti aku?”
“Tentu saja Ali.” Dengan
nada suara yang melembut dan kulihat mata pimpong itu menyipit. Dia menerima
ikrar sehidup semati ini.
Hari itu kami tepati janji
kami dan pada hari itu pula kami ikrarkan janji kami yang baru. Janji sehidup
semati dalam ikatan yang halal yang diridhoi oleh-Nya. Bersamaan dengan ikrar
janji kami ini waaktu menunjukkan pukul dua siang, seiring dengai itu jam kuto
mendentumkan loncengnya sebanyak dua kali. Dentuman pertama untukku dan yang
kedua untuknya. Seolah-olah jam ini memberi selamat kepada kami atas lulusnya
ujian dari Allah yang kami perjuangkan bersama.