Jumat, 29 Juli 2016

Jam Kuto

Jam Kuto
Aku adalah seorang mahasiswa yang berkuliah di salah satu universitas negeri ternama di Sumatera Selatan. Fakultas keguruan dan ilmu pendidikan adalah fakultas dimana aku menuntut ilmu untuk jenjang strata satu ini. Di kampus biru inilah aku memulai perjuanganku sebagai seorang mahasiswa dan sebagai aktivis. Tidak ada yang spesial dariku, aku hanya seorang mahasiswa yang mempunyai mimpi yang InsyaALLAH mulia di mata Allah.

Di ruang sekretariat organisasi mahasiswa inilah kurancang impian ini. Ruangan yang luasnya sama seperti ruang kelas yang di dalamnya terdapat dua unit sofa, dua rak buku, dan satu unit komputer. Lantai yang beralaskan karpet berwarna biru dan dinding yang dihiasi dengan hiasan dari oleh-oleh universitas lain menambah cantik ruangan ini. Aku duduk di sofa ini dengan pensil digenggamanku yang siap kuhunuskan di buku gambar ini.  Kucurahkan semua ide dan imajinasi yang kemudian kutuangkan lewat ukiran dari goresan-goresan pensil membentuk sebuah rancangan masa depanku. Ini adalah sebuah impian yang akan kuwujudkan di masa yang akan datang sebagai wujud cintaku kepadaNya. Aku terinsipirasi dengan kisah Nabi Ibrahim A.S saat beliau membangun Ka’bah sebagai wujud nyata cintanya kepada sang Ilahi. Dari situlah timbul ide ini yang kelak akan aku wujudkan di masa depan tanpa rasa ragu dan penuh keikhlasan hanya untuk-Nya. Disaat aku sedang khusyuknya merancang impianku ini terdengarlah suara seorang wanita memanggilku.

Assalamu’alaykum, eh Ali ada kamu disini. Sedang apa kamu?” Kemudian ia masuk lalu duduk lesehan.
Aku menoleh, meletakkan pensil dan turun dari tempat dudukku wa’alaykumussalam, Ayu, oh aku sedang menggambar sesuatu.”
“Memangnya kamu sedang menggambar apa?” Tanyanya penasaran.
“Aku sedang menggambar impianku di masa depan, Ayu. Apa kamu ingin melihatnya?”
“Tentu saja boleh mana sini biar kulihat.” Kemudian aku tunjukkan gambarku ini kepadanya.
“Gambar ini terlihat seperti menara yang ada jamnya. Kenapa kamu menggambar ini?”
“Ini adalah impianku Ayu. Kelak kalau aku sukses nanti akan kubangun menara jam ini di plaza BKB (Benteng Kuto Besak).”
Kamukan kuliah di FKIP. Apa bisa kamu membangun menara ini?”
“Apa yang tidak mungkin di dunia ini? InsyaAllah kalau niat kita tulus karena Allah hal yang tidak mungkin akan menjadi mungkin termasuk impianku ini hehehehe.”
“Aamiin. Optimis sekali kamu. Oh iya, apa nama untuk menara jam ini Ali?
“Iya dong kita harus selalu optimis untuk mewujudkan impian kita. Menara jam ini kunamai Jam Kuto.”
“Jam Kuto?” Ayu menyeringetkan dahinya. “Apa artinya Ali?”
“Jam artinya jam dan Kuto berasal dari bahasa Palembang yang artinya kota. Jadi, jam kuto artinya jam kota.”
“Cocok sekali nama itu untuk menara jam ini.”
“Alhamdulillah kalau cocok. Ayu, maukah kamu berjanji kepadaku satu hal?”
“Janji apa Ali?”
“Kalau menara ini berhasil aku bangun berjanjilah untuk menemuiku di sana selepas zuhur.”
“Kenapa harus aku yang datang? Kenapa tidak yang lain saja?” Tanyanya heran.
Pokoknya aku maunya kamu yang datang titik.” Ucapku menggodanya. Sejurus kemudian, kulihat pipinya merona bersamaan senyumnya yang mengembang.
“Kamu ini ada-ada saja Ali.”  Sambil tersenyum.
“Berjanjilah Ayu kamu akan menemuiku disana.” Tegasku.
“Oke. Aku janji.”
“Janji ya, dan janji itu harus ditepati.” sambil mengacungkan jari kelingkingku.
“Iya Ali aku janji.” Balasnya dengan mengacungkan jari kelingkingnya.

Hari itu, kami ikrarkan janji ini, dan hari ini pula yang akan menjadi saksi bahwa kami akan bertemu ketika impian itu terwujud. Di sana. Di Benteng Kuto Besak.

Ini bukan pertama kalinya aku dan Ayu bertemu. Aku sudah mengenalnya cukup lama. Kami satu perjuangan di salah satu organisasi mahasiswa di fakultas kami kuliah. Orangnya menarik dan asik. Dengan jilbab lebar menjulur hingga ke dada dan baju gamis yang ia kenakan serta mata yang seperti bola pingpong namun agak sipit tingginya pun hampir sama denganku. Tapi, bukan tampilan fisiknya yang membuat ia menarik walaupun memang dia cantik. Kecantikana imannyalah yang membuat ia menjadi menarik. Dia adalah akhwat yang taat dengan agama dan tak jarang pula kami saling mengingatkan satu sama lain jika kami lalai menjalankan perintah Allah dan Sunnah Rosul. Kami berdua sangat dekat padahal kami berbeda program studi, aku di program studi pendidikan Bahasa Inggris dan dia di pendidikan Sejarah.

Masih teringat dengan jelas di benak ini hal-hal yang telah kami lewati bersama saat berjuang di organisasi kampus ini. Senang, susah, dan bahkan saling tidak seteguran pernah kami alami bersama. Namun yang paling berkesan adalah saat di mana aku di amanahkan oleh senior untuk memimpin suatu kegiatan. Berat rasanya menjadi pemimpin suatu kegiatan ditambah lagi ini adalah pengalaman pertamaku dalama hal ini. Namun dia selalu ada menemaniku untuk melaksanakan amanah ini. Apapun yang aku perintahkan selalu ia turuti tanpa mengeluh sedikitpun dan ia selalu menjawab iya akhi, InsyaALLAH aku sanggup.

Diantara rekan wanita di organisasi ini hanya dia yang dengan senang hati menuruti perintahku. Dia selalu ada di saat aku butuhkan ketika rapat berlangsung membahas susunan acara dia yang mencatat setiap detil rancangan acara, menghubungi rekan-rekan yang lain, menemaniku di sekretariat dan lain-lain. Sungguh dia sangat berbeda dari yang lain dan inilah yang membuatnya sangat istimewa.

Hari demi hari, waktu demi waktu telah kami lewati bersama dan tak terasa kami menjadi semakin dekat. Ada suatu rasa yang mulai tumbuh di hati ini sehingga membuat batinku gundah. Ya, aku jatuh cinta kepadanya. Perlahan namun pasti fitrah ini terus tumbuh di dalam hati ini.

Fitrah ini semakin di uji kesuciannya. Di balik keakraban ini aku merasa ada yang salah. Perlahan bukan atas kesucian ini aku berinteraksi dengannya melainkan hanya mengikuti hawa nafsuku saja. Aku khawatir akan iman ini dan sejak itulah kuputuskan untuk menjauhinya dalam beberapa waktu kedepan. Aku berusaha keras agar iman ini tetap kuat, segala upaya telah aku lakukan mulai dari bertilawah rutin selepas maghrib, menghadiri majelis ilmu, dan mempelajari ilmu tentang berinteraksi dengan lawan jenis. Tak hanya sampai disitu, aku juga meminta pendapat dengan rekan seperjuangan yang lain dan pendapat murrobiku. Hasilnya tetap sama, hanya satu. Nikahi dia atau lepaskan. Batinku jungkir balik, aku bingung harus memilih pilihan yang mana. Hati ini mejadi gelisah tak tahu harus berbuat apa. Aku pasrah. Aku berserah. Semua ikhtiar telah aku lakukan. Lewat sujudku di sepertiga malam ku ungkapakan semua keluh kesahku terhadap masalah ini kepada-Nya. Aku berdoa agar Ia membimbingku dalam memilih pilihan yang tepat dalam mengatasi masalah ini.

Akhirnya aku menemukan jawaban untuk semua ini. Aku sangat yakin sekali dengan pilihan ini. Sudah aku putuskan aku akan menikahinya. Akan tetapi . . . .

Saat itu aku sedang online di Facebook dan iseng-iseng aku mengintip akun FB miliknya. Aku lihat beranda facebooknya tampak banyak status dan postingan berbau Islami tidak ada yang salah dengan semua itu namun ada hal yang mengganjil terjadi, aku tidak bisa memberikan komentar di status atau postingan lain miliknya. Aku terheran kenapa aku tidak bisa melakukan itu dan tanpa sengaja aku melihat sudut kanan foto sampul akunnya dan kulihat ada keterangan bahwa aku tidak lagi berteman dengannya di facebook. Ya, aku diremove olehnya. Aku diremove? spontan pertanyaan itu keluar dari mulutku saat itu. Aku bingung, aku mencoba mengkoreksi diri ini dengan mengingat hal-hal yang lalu apakah sebelumnya aku pernah membuatnya tersinggung. Tapi aku sudah lama tidak tatap muka dengannya jangankan bertatap muka, berbalas pesan singkat dan chatting di Facebook saja tidak.

Esok harinya aku pergi kekampus menjalani aktivitas seperti biasa. Tampak dari kejauhan aku melihat seorang mahasiswi berpakaian serba hitam mulai dari baju gamis, jilbab lebar yang menjulur hingga ke bagian perutnya, dan cadar yang menutupi hidung dan mulatnya. Hanya matanya saja yang terlihat saat itu. Aku semakin penasaran siapa gerangan mahasiswi itu kemudian aku mempercepat langkahku untuk menemuinya. Jarak kami sudah dekat kira-kira hanya berkisar dua meter saja dan alangkah terkejutnya aku ketika ku tatap matanya. Aku takkan pernah lupa dengan cirri khasnya dia dengan bola mata seperti bola pingpong itu. Sosok mahasiswi itu adalah Ayu. Spontan mulut ini terkunci saat aku hendak ingin menyapanya, mulut ini terkunci dengan tatapan matanya yang sangat dingin. Dia hanya melihatku tak sampai satu detik kemudian dia membuang pandangnnya dariku dan menundukkan pandangannya ke tanah seakan aku ini lebih hina dari tanah yang kotor. Aku seperti orang asing saja, ia tampak tak mengenaliku lagi.

Kampus menjadi geger, tidak hanya Ayu yang berubah ada tiga temannya yang berjuang sama seperti dia. Kadang harapan tak sesuai dengan apa yang diperjuangkan. Itulah yang mungkin dirasakan Ayu sekarang yang berjuang untuk tetap istiqomah dijalan-Nya dengan cadar yang ia kenakan. Namun kenyataan memang tidak berpihak kepadanya, reaksi orang-orang di sekitar kampus amat negatif. Mereka menganggap dia yang tidak-tidak dan bahkan menuduhnya sebagai teroris. Rekan-rekan seperjuangan juga merespon dengan tanggapan yang tidak baik dan diapun dikucilkan. Hanya sebagian kecil yang dapat menerima perubahannya ini. Keadaanpun semakin runyam dengan reaksi petinggi-petinggi kampus yang berang dengan perubahannya ini membuat perjuangannya amat terasa berat. Tidak ada yang mendukung hijrahnya.

Sungguh kejam memang kenyataan yang dia hadapinya namun mereka tidak tahu apa yang diniatkan dihatinya dan aku percaya bahwa dia berhijrah hanya semata-mata mematuhi apa yang Allah perintahkan. Walau bagaimanapun aku tetap mempercayainya meski hanya aku satu-satunya orang didunia ini yang mendukung hijrahnya dan hanya untaian do’a ini yang dapat aku sampaikan kepada sang Ilahi agar dia diberi kesabaran dalam beristiqomah dijalan-Nya.

Alhamdulillah aku bersyukur memiliki keluarga yang bekerja di pemerintahan. Jadi aku bisa mendapatkan informasi yang InsyaALLAH dapat membantunya. Dari informasi inilah aku selalu mengingatkan dia untuk selalu berhati-hati. Namun sayang aku tidak dapat menghubunginya langsung karena dia memutuskan semua kontak denganku sehingga kepada temannyalah aku dapat memberikan informasi ini demi menyelamatkan dia dan teman sejawatnya. Di saat semua terasa berjalan lancar justru hal yang tidak diinginkan pun terjadi. Para petinggi universitas mengklaim dia dan rekan-rekan seperjuangnya terlibat organisasi radikal ISIS. Mereka berniat untuk mengeluarkan mereka jika memang terbukti kalian anggota organisasi tersebut. Hal ini pastinya tentu sangat mengejutkannya dan juga aku. Melalui pihak fakultas kalian diintrogasi untuk dimintai klarifikasi mengenai perubahan kalian. Dan sekali lagi pertolongan Allah amat dekat ada beberapa rekan-rekan eksekutif mahasiswa yang bersedia membela kalian lewat audiensi bersama dekan dan tentunya ini menjadi suatu titik terang bagi kalian untuk selamat dari buruk sangka ini.

Hasil audiensi menyatakan bahwa mereka tidak akan di keluarkan dari kampus jika memang mereka terbukti bukan anggota ISIS. Malam itu aku mengintip lagi akun FB miliknya. Aku sangat terkejut kali ini kulihat ada beberapa postingan berbau ISIS. Aku tidak mau su’uzon dengannya aku ingin membuktikan bahwa dia tidak seperti apa yang aku pikirkan. Esok harinya kuyakinkan diri ini untuk menemuinya langsung. Seluk beluk kampus biru ini sudah aku telusuri namun hasilnya nihil aku tidak menemukan keberadaannya. Kemudian aku berjalan menelusuri jalan yang membagi lapangan basket dan tanah kosong dan kulihat dia sedang berjalan menuju terminal yang sepertinya dia akan pulang.

“Ayu tunggu!” Aku meneriakinya dari kejauhan. Dia tidak menoleh kearahku dan meneruskan langkahnya. Kemudian aku berlari menghampirinya.
“Ayu!” Teriakku lebih keras. Dia menghentikan langkahnya. Menoleh kearahku yang hampir semaput.
“Ada apa Ali? Aku sedang buru-buru.” Sambil mengatur nafasku yang lepas landas dari paru-paru ini kemudian aku bicara kepadanya.
“Ayu, apa benar kamu terlibat ISIS?”
“Tidak Ali”
“Kau bohong Ayu! Aku melihat postingan berbau ISIS di beranda Facebookmu.”
“Iya, memang benar aku mempostingnya karena aku berpikiran yang sama seperti organisasi itu.”
“Berarti memang benar kamu terlibat dengan organisasi itu?”
“Tidak Ali, aku hanya pengagum saja. Aku bukanlah anggota ISIS.”
“Astagfirullah, Ayu. Walaupun pengagum, kamu tahukan kalau ISIS itu menyimpang dari syariat Islam?” Nadaku mulai meninggi.
“Lantas sistem yang kita anut ini apakah berlandaskan dengan syariat Islam?” Balasnya dengan nada yang meninggi pula.
“Tidakkah yang kita lakukan bersama selama ini hanya untuk kepentingan umat Ayu? Tidakkah kau ingat itu?”
“Aku ingat Ali dan justru itu aku sadar bahwa apa yang kita lakukan bukanlah untuk kepentingan umat melainkan untuk kepentingan suatu golongan.”
“Kau terlalu berburuk sangka, Ayu.” Nadaku mulai kembali normal.
“Kau sama saja seperti yang lainnya Ali, menolak syariat Islam dan lebih memilih sistem yang kufur. Aku ragu apa kamu ini seorang muslim sejati dan bisa jadi kamu ini seorang penghianat Islam.”

Sungguh aku tidak menyangka kata-kata itu keluar dari lisannya. Apa yang sebenarnya terjadi selama kami tidak bertemu. Aku tidak percaya dia yang dahulunya selalu mengeluarkan kata-kata yang menyejukkan kini malah seperti belati yang menghujam hati ini dengan pedihnya.

“Kalau aku memang bukanlah seorang muslim sejati dan bahkan menurutmu aku ini sebagai pengkhianat Islam. Ambil sebongkah batu besar di dekatmu itu. Hantamlah aku! rajam aku dengan batu itu!”

“Apa maksudmu Ali?” Tanya Ayu bingung.
“Jika menurutmu aku ini penghianat Islam, secara tak langsung aku ini kafir. Rajamlah aku Ayu!”
“Apa yang kamu pikirkan, Ali? Aku tidak bisa melakukannya!” Suaranya meninggi. Kulihat mata bola pingpong sipit itu mulai berkaca-kaca.
“Kenapa? Janganlah kau ragu Ayu, Aku IKHLAS kau rajam.”

Diapun terdiam. Kulihat air matanya perlahan mengalir dan menjadi derasnya. Isak tangisnya pun pecah tak bisa ia bendung lagi dan tanpa ia sadari cadarnya menjadi basah karena derasnya air mata yang mengalir. Untuk pertama kalinya aku melihat ia menangis seperti itu. Tak tega aku melihatnya tapi apa daya aku hanya dapat diam menyaksikan. Tak sepatah katapun keluar dari mulutnya begitu juga dengan diriku kemudian ia berbalik dan pergi meninggalkanku.

Husnudzon, hanya pemikiran itu yang ada dibenak ini. Aku yakin bahwa dia tidak seperti yang aku pikirkan. Dia telah menerangkan bahwa dia bukanlah anggota organisasi itu dan dia juga telah terbebas dari tuduhan teroris sehingga pihak universitas membatalkan rencananya untuk mengkeluarkannya dan rekan-rekannya. Aku bersyukur dengan kabar yang baik ini namun sekali lagi aku tidak bisa menebak apa yang ada di pikirannya.

Aku mendapat kabar dari rekan yang lain bahwa dia akan pindah kuliah ke universitas lain. Padahal dia sudah mendapatkan kesempatan untuk berkuliah disini tapi kenapa dia membuat keputusan yang mengecewakan ini. Memang sakit rasanya dikucilkan oleh masyarakat kampus dengan perubahannya yang sekarang ini tapi dia masih mempunyai mimpi dan harapan di kampus ini. Sekali lagi aku tidak mengerti jalan pikirannya. Kucari segala informasi mengenai kapan dia akan pindah dan kudapati besok pagi jam 10 di stasiun kereta api Kertapati dia akan pergi ke kampung halamannya di Baturaja. Ku kosongkan semua agendaku termasuk kuliah hanya untuk menemuinya esok hari dan mungkin ini pertemuan terakhirku dengannya.

Aku telah sampai di stasiun. Kulihat jam tanganku menunjukkan lima menit lagi sebelum jam sepuluh kemudian aku bergegas masuk ke stasiun. Di stasiun hanya orang yang memilik tiket yang boleh masuk ke dalam ruang tunggu karena aku tidak membawa uang lebih aku memutar otak mencari cara agar bisa masuk ke ruang itu. Kulihat di antrian pengecekan tiket ada sebuah pintu tempat keluar masuk penumpang yang telah dicek tiketnya. Dengan bermodalkan nekad aku menerobos masuk lewat pintu tersebut. Setelah berhasil tanpa membuat petugas stasiun curiga aku mulai mencarinya dari gerbong belakang, namu tidak ada sosok yang kukenal disana kemudian kutelusuri lagi tiap-tiap gerbong hingga ke gerbong pertama dan hasilnya tetap sama tak kulihat ia disana. Aku mulai frustasi dan bingung kemana ia berada. Secara spontan mata ini melirik keruang tunggu dan kulihat seorang wanita sedang duduk membaca Al-Qur’an berpenampilan mencolok berbaju gamis dan jilbab lebar  berwarna coklat dengan cadar menutupi hidung dan mulutnya.

Aku yakin sekali itu pasti dia kemudian aku memanggilnya. Diapun menoleh kearahku, seketika ia hentikan tilawahnya dia melihatku dengan mata terbuka lebar seolah tak percaya bahwa aku ada disana. Terlihat jelas dia sangat terkejut melihat kedatanganku.

 “Ali, apa yang kamu lakukan disini? Ayu berdiri. Menatapku bingung. Bukankah aku tidak memberitahumu tentang kepergianku? Bukankah saat ini harusnya kamu kuliah?” tanyanya padaku.
Allah memberikan petunjuk sehingga aku bisa tahu kau ada disini dan Kebetulan juga dosen kami tidak masuk beliau sedang ada tugas di luar kota. Ayu, sebelum kamu pergi aku ingin mengucapkan salam perpisahan untukmu.”
Aku berbohong padanya kalau dosenku berhalangan hadir semua demi untuk hari ini.
“Ali, mungkin kau sudah tahu kalau aku akan pindah kuliah.”
“Kenapa kau ingin pindah? Bukankah pihak universitas telah mengizinkanmu berkuliah lagi?”
“Tidak ada tempat untuk orang sepertiku di sana, Ali.” Dia menunduk.
“Tidak usah kau dengar perkataan mereka, kau masih mempunyai mimpi yang harus kau raih. Pulanglah, Ayu. Urungkanlah niatmu untuk pindah.”
“Keputusanku sudah bulat Ali.” Dia kembali mendongakkan kepalanya.
Dengan tatapan matanya yang tajam aku tahu kalau dia sangat serius atas apa yang ia pilih. Aku tidak bisa membujuknya lagi untuk mengubah keputusannya.
“Ali, Kenapa kamu melakukan semua ini?”
“Apa maksudmu?”
“Kau selalu peduli padaku padahal aku belum pernah membalas kebaikanmu ini dan bahkan aku pernah mengacuhkanmu.”
“Karena aku percaya padamu. Perjuanganmu ini kau lakukan semata-mata karena Allah dan sudah sepantasnya aku menolong orang yang berjuang dijalan-Nya.”

Dia terdiam, dengan tatapan matamu yang lebar dan alismu yang mengerut bisa kulihat bahwa kau tahu kalau aku menyembunyikan apa yang ingin kukatakan sebenarnya.  Ingin sekali kukatakan bahwa aku mencintaimu tapi apa daya lisan ini amat lemah untuk kugerakkan. Terdengarlah suara tanda kereta akan segera berangkat, penumpang yang menunggu di ruangan ini pun berbondong-bondong masuk ke kereta tapi dia tetap berdiri di hadapanku.

“Ayu, sebaiknya kau bergegas. Keretamu akan segera berangkat.”
Diapun mengambil tasnya dan dengan langkah pelan dia meninggalkanku. Selang beberapa langkah ia berbalik dan mengatakan sesuatu padaku.
“Ali. . . . terima kasih untuk semuanya.” Dia berkata demikian dengan mata yang agak menyipit  dia tersenyum walaupun senyumnya bersembunyi di balik cadarnya itu.
Itu adalah kata-kata terindah yang dia ucapakan kepadaku. Langkah ini dengan sendirinya mengikutinya. Diapun masuk kedalam kereta di gerbong ketiga dan duduk dibagian kanan gerbong.
Sambil mengetuk kaca jendela kereta disampingnya “Ayu! Ayu! Ayu!”
“Ali?! Apa yang kau lakukan? Ini berbahaya!” Spontan dia bangkit dari tempat duduknya terkejut dengan apa yang aku lakukan.
Keretapun menambah kecepatannya. Lajunya kini semakin cepat, akupun tak mau kalah dengan kereta ini. Kupercepat lajuku untuk mengejarnya demi menyatakan apa yang seharusnya kukatakan dahulu.
“Ayu! Aku ingin berkta jujur kepadamu”
“Kau bisa celaka Ali! Stop! Hentikan ini!”
“Ayu, ANA UHIBUKI FILLAH! Berjanjilah untuk menemuiku di Jam Kuto!
“Ali. . . .” Walaupun dia diam aku tetap menatap dan mengejarnya menunggu jawaban darinya apakah ia akan berjanji kepadaku. Dan tanpa kusadari tak kulihat lagi ujung jalan yang curam sehingga aku terjatuh dan seketika tangan dan kakiku terluka.
“Berjanjilah Ayu!” Sambil menahan rasa sakit. Aku bangkit dan mencoba untuk tetap mengejarnya.
“Aku janji Ali! Aku akan menemuimu!” Dan diapun berlalu.

Hari itu adalah hari terakhir aku melihatnya dan ini mungkin untuk selamanya. Aku mencoba bangkit dan tegar walaupun lisan dan hati berkata ikhlas namun jauh di dalam fitrah ini berat untuk menerima semuanya. Kenapa ini semua harus terjadi? Salahkah jika aku terlalu berharap kepadamu Ayu? Aku mencoba untuk sabar dan berdoa kepada Allah untuk dikuatkan dalam menghadapi kenyataan yang pahit ini. Aku merenung dan bermuhasabah apa karena aku yang menyebabkan semua ini terjadi padanya. Teringat dibenakku suatu perkataan Imam Syafi’i “ketika hatimu terlalu berharap kepada seseorang maka Allah timpakan ke atas kamu pedihnya sebuah pengharapan, supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap selain Dia. Maka Allah menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepada-Nya.”

Maafkan aku, Ayu. Karena pengharapanku yang berlebihan inilah yang menyebabkan engkau menghadapi ini semua dan karena hal inilah aku melupakanmu, ya Robbi. Allah cemburu dan memisahkanku dengan dirinya  agar aku tidak terlalu berharap kepadanya. “Astaghfirullah. Ya Allah ampuni hamba atas dosa ini.” Aku beristighfar, betapa bodohnya aku yang terbuai dengan suatu pengharapan yang menghancurkan fitrah ini. Kini aku sadar bahwa selama ini tidak sepenuhnya aku mencintainya karena Allah. Niat di dalam fitrah ini harus diluruskan agar ikrar yang pernah kuucapkan kepadanya waktu itu menjadi fitrah yang suci serta seantiasa di ridhoi oleh-Nya.

Kujalani hari-hariku seperti biasa walaupun semuanya tampak berjalan mulus namun masih ada yang kurang. Aku merindukanmu, Ayu. Sudah hampir satu tahun sejak dia meninggalkan kampus sepi rasanya tanpa kehadirannya. Aku bukannya tidak bersyukur kepada sang Ilahi atas nikmat teman yang seiman dan satu pandangan tapi aku tidak bisa membohongi hati ini. Walaupun kututupi dengan rapat dan mencoba untuk tidak menoleh ke masa itu jujur aku masih merindukannya. Satu tahun lagi perjuangan menuntut ilmu di kampus biru ini dan setelah aku wisuda nanti akan kuperjuangkan janji ini.
Wisuda yang ke-124. Di wisuda inilah aku mengenakan pakaian toga. Pakaian yang selalu di idam-idamkan mahasiswa selama empat tahun berkuliah. Di auditorium ini perjuanganku menuntut ilmu berakhir yang disertai dengan mulainya perjuangan baruku di ruang lingkup kehidupan masyarakat. Kehidupan yang selalu kami perjuangkan sebagai seorang aktivis.

Pasca wisuda kumulai lembaran hidup yang baru di dunia masyarakat. Kuterapkan ilmu yang telah aku pelajari selama empat tahun berkuliah salah satunya menjadi pendidik di suatu sekolah. Tak hanya itu segala peluang yang ada kugunakan dengan sebaik-baiknya. Keras memang lembaran hidup yang baru ini beda sekali degan orang lain katakan.

Butuh modal yang besar untuk mewujudkan mimpi ini. Selain uang, ilmu menjadi salah satu modal utama untuk mendukung mimpi ini. Ibuku mempunyai resep tersendiri dalam memasak masakan khas Palembang. Aku belajar darinya bagaimana membuat pempek beserta cukanya dengan cita rasa yang lain. Rumit memang mempelajari hal baru yang aku temui. Tekad yang kuat untuk mimpi inilah modal utamaku dalam mempelajarinya. Aku membuka usahaku di bidang kuliner. Masakan khas Palembang. Mulanya memang sakit. Sepi pengujung, buruknya mengatur keuangan, persaingan, dan lain-lain. Aku selalu mencari solusi untuk setiap permasalahan di dunia wirausaha ini dan lambat laun semua masalah dapat teratasi. Dengan segudang masalah inilah yang membuat aku semakin gigih untuk terus berusaha dan ternyata benar pepatah “hasil tidak akan pernah menghianati proses.” Berkat ini semua aku dapat membagun cabang usahaku di kotaku hingga tersebar ke seluruh pelosok Indonesia. Hasil dari usaha inilah yang akan kugunakan untuk membangun mimpiku. Modal finansialpun terasa cukup untuk membangun mimpi ini dan kumulailah langkah awal untuk membangunnya.

Lewat sahabatku yang seorang arsitek terkenal aku memintanya untuk merancang jam kuto. Dia sungguh ahli di bidangnya dan tidak main-main dalam merancang jam ini. Setelah serangkaian rancangan rumit dibuatnya akhirnya jadilah rancangan akhir yang akan mewujudkan mimpi ini. Atapnya berbentuk limas khas Palembang yang di sisi kanan dan kiri atap terdapat kuku-kuku seperti tanduk dan di tengah atapnya terdapat mahkota yang dalam bahasa Palembang disebut simbar. Lonceng jam ini didatangkan langsung dari pabrikan Jerman. Mesin jam ini digerakkan secara mekanik seperti jam Big Ben dan jam Gadang. Di bagian badan jam terdapat ukiran khas Palembang yang didominasi dengan warna merah dan kaligrafi Asmaul-husna. Pada bagian jamnya ditulis dengan angka Arab dan terdapat asma Allah di atasnya. Tinggi menara jam ini mencapai dua puluh delapan meter. Luas denahnya mencapai lima belas kali empat meter. Jam ini akan menjadi ikon baru untuk kotaku tercinta sekaligus menjadi bukti nyata kecintaanku pada-Nya. Aku berharap kehadiran jam ini dapat membuat orang-orang disekitar jam ini dapat mengingat waktu dan mengingat kewajibannya sebagai hamba-Nya.

Biaya yang dikeluarkan untuk membangun jam ini berkisar milyaran rupiah. Tidak terlalu menjadi masalah buatku. Yang menjadi masalah adalah dalam menghadapi birokrasi dengan pemerintah. Rumit dan banyak persyaratan yang memusingkan menjadi kendala yang nyata dalam membangun mimpi ini. Tak hanya itu, kritikpun tercurah oleh serangkaian masyarakat dengan dibangunnya jam ini. Sekali lagi pertolongan Allah amat dekat, Dia maha pembolak balik hati. Kuyakinkan pemerintah dan masyarakat bahwa pembangunan jam ini akan berdampak positif untuk kota ini. Serangkaian penjelasan telah disampaikan kepada mereka. Awalnya mereka bersikukuh untuk menolak Jam Kuto namun lama-kelamaan mereka dapat menerimanya dengan terbuka. Telah diambil keputusan bahwa jam kuto akan dibangun.

Akhirnya jam mimpi ini telah selesai dibangun. Lokasi dibagunnya jam ini pun sesuai dengan yang diharapkan. Jam ini dibagun di plaza Benteng Kuto Besak. Peresmian jam ini ditandai dengan pembunyian lonceng pertama dan dihadiri oleh pejabat kota dan provinsi. Setelah melewati perjuangan yang panjang akhirnya mimpi ini terwujud. Telah kutepati janjiku kepada sang Ilahi dan kini akan kutepati janjiku yang kedua. Menunggu Ayu di jam ini. Usai peresmian Jam Kuto aku mencari dia di sekitaran jam namun hasilnya nihil. Esok harinya aku melakukan hal yang sama, selepas zuhur kutunggu dia di jam ini namun dia tidak kunjung datang. Kulakukan hali ini terus menerus hingga keluarga dan rekan-rekan yang lain merasa risau dan kasihan melihat yang aku lakukan ini. Ketika mereka bertanya “untuk apa kamu menunggu wanita itu? belum tentu dia akan datang dan bisa jadi dia telah menikah dan melupakan janjinya ini” aku selalu menjawab “Aku seorang muslim. Seorang muslim sejati harus menepati janjinya.”

Jika boleh jujur aku juga merasa hal yang sama seperti apa yang mereka katakan. Apa dia masih mengingat janjinya? Sampai kapan aku harus menunggunya? Terlintas di benak ini pemikiran tersebut. Aku harus sabar karena aku yakin Allah maha menepati janji-Nya. Ini adalah ujian dari-Nya dan jika aku lulus dari ujian ini aku yakin Dia akan menganugerahiku dengan sesuatu yang tak terbayangkan. Berat memang ujian untuk kesabaran ini, sudah hampir satu tahun aku menunggunya namun ia tak kunjung datang.

Malam itu, saat aku selesai sholat Isya handphone milikku berbunyi. Aku ditelepon oleh nomor yang tidak kukenal. Kuangkat telepon itu dan terdengarlah suara seorang wanita.

“Assalamu’alaykum, Ali.”
“Wa’alaykumussalam, Siapa ini?” Jawabku penasaran.
“Maaf membuatmu menunggu lama Ali, Besok aku akan memenuhi janjiku. Assalamu’alaykum.”
“Ayu apa ini kamu? Halo! Halo!” Sontak diri ini terkejut dengan pernyataan wanita ini.

Teleponnya terputus. Perasaan ini bercampur. Apa benar yang meneleponku barusan adalah Ayu atau orang yang iseng. Kucoba menelepon balik nomor itu tapi nomor itu tidak bisa dihubungi lagi.

Esoknya kutunggu orang yang meneleponku semalam di jam kuto. Dari pagi aku tunggu wanita itu namun dia tidak menghampiriku. Waktu menujukkan hampir memasuki waktu zuhur. Aku memutuskan untuk sholat terlebih dahulu dan setelah itu melanjutkannya lagi. Bakda zuhur kulanjutkan lagi menunggu wanita itu. Tiga puluh menit aku menunggu dan jam ditanganku menunjukkan jam setengah dua siang dan kudapati wanita itu tidak muncul. Kuputuskan untuk pulang. Saat kulangkahkan kaki ini beberapa meter dari Jam Kuto kulihat sosok yang kukenal. Sosok itu kelihatan mencolok dari orang-orang disekitarnya. Sosok itupun menghampiriku.

“Assalamu’alaykum, Ali. Lama tak jumpa.” Aku membeku. Aku sungguh tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Sosok itu adalah Ayu.
“Wa’alaykumussalam. Ayu, akhirnya kau datang.” Tak bisa kubendung lagi air mata ini untuk jatuh. Aku sungguh bahagia. Dia telah menepati janjinya.
“Ali, maafkan aku telah membuatmu menunggu selama satu tahun.” Matanyapun membalas. Air matanya jatuh dengan derasnya.
“Tidak. Justru akulah yang harusnya minta maaf. Aku telah membuatmu menunggu selama enam tahun.”
“Kau selalu menyalahkan dirimu Ali.” Bisa kudengar isak tangisnya saat dia berkata seperti itu.
“Tidak apa-apa Ayu. Kemana saja kamu selama ini?”
“Setelah aku pindah aku menimba ilmu di pondok pesantren.”
“Alhamdulillah selama ini kamu melakukan hal yang mulia. Apa kau datang sendirian? Mana suamimu?”
“Dia ada di depanku” Kulihat mata pimpong itu menyipit. Aku tahu dibalik cadarnya, ia tersenyum.
Dengan polosnya diri ini menoleh kebelakang, kucari orang yang menjadi suaminya. Ternyata aku baru sadar ternyata yang dimaksudnya itu adalah aku.
“Apa maksudmu, Ayu?”
“Ali kau telah melakukan banyak hal untukku. Satupun kebaikanmu ini belum pernah aku balas. Ali aku ingin sekali kukatakan yang sejujurnya kepadamu. Maukah kau . . . .”
“Ayu, maukah kau menikah denganku?” Sekejap kupotong pembicaraanya dan kukatakan hal yang seharusnya aku katakan.
“Apa kau mau menikah dengan wanita sepertiku?” Dia terkejut. Matanyapun berkaca-kaca.
“Justru kebalikannya, maukah kau menikah dengan laki-laki seperti aku?”
“Tentu saja Ali.” Dengan nada suara yang melembut dan kulihat mata pimpong itu menyipit. Dia menerima ikrar sehidup semati ini.


Hari itu kami tepati janji kami dan pada hari itu pula kami ikrarkan janji kami yang baru. Janji sehidup semati dalam ikatan yang halal yang diridhoi oleh-Nya. Bersamaan dengan ikrar janji kami ini waaktu menunjukkan pukul dua siang, seiring dengai itu jam kuto mendentumkan loncengnya sebanyak dua kali. Dentuman pertama untukku dan yang kedua untuknya. Seolah-olah jam ini memberi selamat kepada kami atas lulusnya ujian dari Allah yang kami perjuangkan bersama.